sejarah metode Qiroati

 Metode Qiroati diciptakan oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang pada tahun 1960-an, dimulai tahun 1963, sebagai respons atas metode baca Al-Qur'an yang dianggap kurang efektif (terlalu banyak teori, kurang praktik tartil). Metode ini menekankan bacaan Al-Qur'an yang lancar, cepat, tepat, dan benar sesuai tajwid tanpa teori panjang, dikemas dalam buku-buku sederhana (10 jilid) yang dipraktikkan langsung, dan menjadi cikal bakal TPA/TPQ pertama di Indonesia. 

Latar Belakang & Motivasi

  • Kelemahan Metode Lama: KH. Dachlan melihat metode yang ada (seperti Baghdadiyah) lebih banyak hafalan dan teori daripada praktik tajwid yang benar, terutama untuk anak-anak.
  • Kebutuhan Praktis: Ia ingin menciptakan metode yang praktis agar anak-anak dan masyarakat awam bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar dan benar sesuai kaidah tajwid dengan cepat. 
Proses Penyusunan
  • Dimulai Tahun 1963: KH. Dachlan mulai menyusun metode ini, yang membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk penyempurnaan.
  • Observasi & Studi Banding: Beliau melakukan observasi di berbagai lembaga pendidikan dan studi banding ke pesantren-pesantren, termasuk ke Pondok Pesantren Mambaul Hisan di Gresik.
  • Tashih: Metode ini ditashihkan (diperbaiki dan disahkan) oleh ulama ahli Al-Qur'an seperti KH. Turmudzi Taslim dan KH. Muin Wot Prau Semarang, serta mendapat restu dari KH. Arwani Al Hafidz.
  • Dinamai "Qiroati": Nama "Qiroati" (artinya "bacaanku") diberikan atas usul Ustadz Achmad Djunaidi dan Ustadz Syukri Taufiq, bermakna "inilah bacaanku yang sesuai tajwid". 
Penyebaran & Pengembangan
  • TPA/TPQ Pertama: Pada tahun 1986, KH. Dachlan mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) pertama di Indonesia di Semarang, yang menjadi cikal bakal TPA/TPQ modern.
  • Penyebaran Luas: Metode ini kemudian dikembangkan ke wilayah Pantura dan seluruh Indonesia, menjadi salah satu metode pembelajaran Al-Qur'an paling populer. 
Prinsip Utama Qiroati
  • Praktik Langsung: Langsung mempraktikkan bacaan tartil sesuai tajwid tanpa penjelasan teori yang panjang.
  • Struktur Sistematis: Terdiri dari 10 jilid yang disusun secara sederhana namun sistematis, membimbing dari pengenalan huruf hingga bacaan Al-Qur'an lengkap.
  • Fokus: Membaca Al-Qur'an secara lancar, cepat, tepat, dan benar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kyai Chumaidi, bapak TPQ

Biografi KH. Taufiqul Hakim

Al-Quran dan Sejarah Intelektualitas Umat Islam