Kyai Chumaidi, bapak TPQ



Perkembangan pendidikan baca tulis al-Qur’an di tengah masyarakat saat ini tumbuh pesat bak buih di tepi pantai. Semula metode baca tulis Al-Qur’an diajarkan dengan cara dieja huruf perhuruf berubah menjadi metode langsung perlafadz tanpa eja. Suasananya pun yang semula dikenal dengan ngaji kampung dikembangkan menjadi ngaji TPQ dengan kemasan menarik, dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan seperti evaluasi caturwulan, penerimaan rapor, sidang tahsis, dan wisuda. Perubahan metode ajar tersebut menjadikan minat masyarakat untuk menitipkan anaknya belajar Al-Qur’an di TPQ semakin meningkat. Masyarakat kota yang biasanya tidak memikirkan anaknya untuk belajar Al-Qur’an pun akhirnya tertarik. Kondisi ini menjadikan lembaga TPQ semakin berkembang pesat di kota Pekalongan dan sekitarnya, dan pencapaian itu semua tidak bisa terlepas dari peran Almaghfurlah Drs. KH. M. Chumaidi ZM, maka sangat wajar jika beliau dikenal sebagai bapaknya TPQ. 

Bapak TPQ yang biasa disapa pak Chumaidi ini memiliki nama asli Muhammad Chumaidi. Beliau adalah anak kedua dari 8 bersaudara. Ayahnya bernama H. Zaid Murtadho dan Ibunya bernama Hj. Rumzanah. Beliau lahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Orang tuanya selain guru ngaji kampung juga merupakan seorang penjual dagangan, mulai dari menjual balon, pakan ayam, hingga menjual mustoko. Keadaan ekonomi orang tua yang sulit menjadikan pak kyai Chumaidi sempat putus sekolah formal. Akan tetapi beliau tidak putus asa, dengan kegigihan dan bantuan dari kakaknya, beliau bekerja ngikal tenun ATBM agar bisa memperoleh upah untuk biaya sekolah. 

Berkat kegigihannya tersebut, akhirnya beliau dapat menempuh pendidikan formal mulai jenjang dasar di SD Medono, lalu lanjut di SMP Wahid Hasyim, lalu dilanjutkan di sekolah pendidikan guru (SPG, yang merupakan sekolah menengah kejuruan yang mendidik calon guru), bahkan sampai mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan jenjang D2 di IAIN Walisongo cabang pekalongan serta jenjang S1 di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegigihan beliau dalam menempuh pendidikan formal tidak seberapa jika dibanding dengan kegigihan beliau dalam menekuni pendidikan non-formal keagamaan. Sejak kecil beliau sangat tekun mempelajari agama, mulai dari mengaji Al-Qur’an sampai mempelajari kitab-kitab. Keterbatasan biaya yang menjadikan beliau mengurungkan niatnya mondok tidak mematahkan semangatnya. Semangat tersebut dibuktikan dengan keistiqomahan beliau mulai pagi siang sore hingga malam hari mengikuti ngaji-ngaji secara gratis di Madrasah Diniyyah Ribatul Muta’allimin Landungsari yang tak jauh dari rumahnya. Karena keistiqomahannya dalam mengaji, beliau diangkat menjadi abdi ndalem KH. Nachrowi Chasan (Pengasuh Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin), sehingga beliau dekat dengan pengasuh dan sering diajar empat mata. Selain belajar agama di Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin, beliau juga belajar ilmu seni baca Al-Qur’an atau Tilawah dari KH. Abdul Latif Al-Qori’ Kradenan dan juga pernah belajar tahfidzul qur’an dari KH. Abdul Malik Al-Hafidz di PonPes Al-Qur’an buaran, mbah kyai Syafi’i Abdul Majid walaupun belum bisa rampung karena kesibukannya. Ketekunan beliau dalam mengaji ilmu agama menjadi sebuah prinsip keluarga beliau yang harus diterapkan anak-anaknya. Beliau selalu menyampaikan “anak-anakku, kalian mau sekolah dimana saja silahkan, tapi jangan meninggalkan ngaji agama, kalau tidak mau ngaji agama maka tidak usah sekolah formal. Kalo mau sekolah formal harus ngaji”. 

Prinsip harus ngaji tersebut benar-benar beliau buktikan sendiri. Selama hidupnya, walaupun beliau sibur menjadi guru kelas SDN, menjadi Kepala SDN, Pengawas, bahkan menjadi Kabid Dikdas di kantor dinas pendidikan kota Pekalongan, beliau tidak pernah meninggalkan urusan ngaji, beliau tetap aktif mengurusi TPQ. Beliau juga sering berpesan “anak-anakku, kalian mau jadi guru, dosen, dokter, pedagang silahkan, tapi jangan tinggalkan TPQ, mau kerja apapun silahkan, tapi tetap harus mulang Al-Qur’an”. Dalam urusan TPQ, hampir seluruh waktu beliau dicurahkan untuk TPQ. Perhatian beliau mengembangkan TPQ dimulai sekitar tahun 1980-an ketika beliau belajar kepada Kyai Dahlan penyusun metode atau kitab Qiro’ati. Beliau banyak mendapatkan pelajaran dari kyai Dahlan, mulai dari ilmu Qiro’ati sampai ilmu hikmah. Pernah suatu ketika kyai Dahlan menyampaikan pesan atau gambaran kepada beliau,”Chumaidi, suatu saat nanti, rumahmu akan ramai didatangi orang-orang mulia”. Mendengar gambaran tersebut, saat itu beliau heran, dan ternyata tahun demi tahungambaran tersebut terbukti bahwa rumah beliau ramai didatangi orang-orang yang ingin mengaji dan belajar Al-Qur’an.

 hasil dari beliau belajar kepada Kyai Dahlan salah satunya adalah beliau diamanati untuk menyebarluaskan Qiro’ati di Pekalongan dan sekitarnya. Beliau memulai menyebarluaskan metode Qiro’ati dari masjid Al-Karomah Tirto pada tahun 1987. Posisi masjid yang berada di pantura dan biasa menjadi transit perjalanan jakarta-surabaya menjadikan aktivitas pengajian Al-Qur’an yang beliau rutinkan mampu menarik perhatian para musafir, alhasil beliau diminta untuk melatih calon guru ngaji di daerah masing-masing bahkan dari luar jawa pun berdatangan. Selain itu, adanya inovasi-inovasi beliau yang terus muncul semakin menambah daya tarik masyarakat untuk belajar Qiro’ati di TPQ, seperti adanya wisuda dan kegiatan-kegiatan menarik lainnya. Tidak sampai situ, pada tahun 2005 beliau juga telah menyebarluaskan Qiro’ati sampai ke lembaga pendidikan formal terutama jenjang SD/MI. Peran beliau yang juga berkecimpung di dinas pendidikan kota Pekalongan menjadikan lembaga formal pun ikut mendapatkan sentuhan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati, sehingga muncul kebijakan jam BTQ pagi di SD/MI dan syarat masuk SMP/MTs calon siswa harus memiliki ijazah Qiro’ati. Terobosan luar biasa ini menjadikan pemerintah kota Pekalongan mendapatkan penghargaan langsung dari presiden SBY. Yang paling mengesankan dari beliau terkait dengan Qiro’ati adalah hubungan beliau dengan kyai Dahlan yang sangatlah dekat. Seorang putra kyai Dahlan bercerita bahwa pak Kyai Chumaidi itu termasuk dari tiga orang pertama yang belajar Qiro’ati kepada kyai Dahlan, sehingga sangat dekat bahkan sampai dekatnya, beliau suatu saat dipanggil untuk datang ke Semarang dari saat itu juga beliau bergegas naik motor memenuhi panggilan walaupun masih ada kesibukan. Kedekatan tersebut berlangsung sampai kyai Dahlan meninggal. Putra kyai Dahlan menambahkan ceritanya, bahwa kyai Dahlan sebelum meninggal sempat memberikan tiga wasiat, salah satunya yaitu “jangan pernah lepas pak Kyai Chumaidi dari Qiro’ati”. Wasiat tersebut menunjukan bahwa beliau termasuk santri spesial di mata Kyai Dahlan. Selain itu, putra kyai Dahlan juga bercerita tentang perjuangan awal beliau menyebarkan metode Qiro’ati sampai ke pelosok-pelosok daerah yang jalannya terjal dan berbatu belum ada lampu dan untuk sampai tempat yang dituju pun harus ditempuh dengan berjalan kaki karena belum bisa dilalui kendaraan, banyak cerita-cerita perjuangan beliau mengembangkan TPQ dan menyebarluaskan Metode Qiro’ati, baik dilingkup Pekalongan maupun dilingkup jawa tengah, bahkan luar jawa. Hal ini menjadi sejarah bahwa berkembangnya TPQ di Pekalongan dan sekitarnya tidak dengan proses singkat, akan tetapi melalui perjuangan yang panjang, dan perjuangan tersebut tetap melakat pada diri beliau hingga beliau meninggal dunia pada hari jum’at pon, 6 Dzulhijjah 1442 H/ 16 Juli 2021 M. Beliau meninggal dalam usia 61 tahun, tak lama setelah beliau mendirikan yayasan pendidikan Al-Qur’an Chumairoh yang didalamnya terdapat Pondok Pesantren, TPQ, dan majlis ta’lim. Semoga semua amal baik beliau diterima oleh Allah SWT. segala kesalahan beliau diampuni oleh Allah SWT. dan beliau dijadikan min ahlil Qur’an dan min ahlil jannah dengan rahmat Allah SWT. serta perjuangan-perjuangan beliau semasa hidupnya tetap terus berjalan hingga yaumil akhir, Aamiin....                 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi KH. Taufiqul Hakim

Al-Quran dan Sejarah Intelektualitas Umat Islam