Fafirru Ilallah: Katanya Allah Dekat, Mengapa Kita Harus Lari?

Dekatnya Allah bukan berarti kita sampai pada Allah, upaya bersegera bahkan berlari menuju Allah menunjukkan kesungguhan bahwa kedekatan Ilahi harus harus senantiasa berjalan beriringan dengan ikhtiar spiritual yang konsisten dan berkelanjutan melalui iman, amal, serta disiplin spiritual dalam menghindari setiap bentuk perbuatan yang dilarang (maksiat). Merenungi Al-Qur’an (tadabbur) tak ubahnya proses berlapis-lapis yang menautkan pemahaman teks dengan realitas kehidupan. Bertolak dari proses yang berlapis tersebut, harusnya Al-Qur’an bukan lagi sekadar untuk dibaca, tetapi untuk diresapi, direnungi. Setiap ayatnya adalah petunjuk dari Allah, yang menuntun hati untuk mengenal-Nya lebih dalam dan menjalani hidup dengan cahaya-Nya. Salah satu statemen di dalam Al-Qur’an yang menarik kita renungi yaitu perihal pernyataan bahwa Allah itu dekat,

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S al-Baqarah ayat 186) Bahkan di dalam ayat yang lain disebutkan juga bahwa kedekatannya melebihi urat leher,

 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ 

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Q.S Qaf ayat 16) Dua ayat di atas menegaskan bahwa Allah senantiasa hadir dan mengetahui bisikan hati hamba-Nya. Kendati demikian, kedekatan ini bukan berarti meniadakan kewajiban manusia untuk secara aktif mendekat kepada-Nya. Keterlibatan aktif manusia untuk senantiasa mendekat dan bersegera menuju kepada Allah setidaknya termaktub di dalam Al-Qur’an pada Q.S Ali Imran ayat 133 dan Q.S Adz-Dzariyat ayat 50.

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ 

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S Ali Imran ayat 133)

 فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ 

“Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu” (Q.S Adz-Dzariyat ayat 50) Dengan demikian, uraian-uraian di atas semakin menegaskan bahwa relasi hamba dengan Tuhan harusnya bersifat aktif, di mana kesadaran akan kedekatan Ilahi harus senantiasa diimbangi dengan proses ikhtiar spiritual yang terus-menerus dan berkelanjutan melalui iman, amal, dan penghindaran dari berbagai macam kemaksiatan. Hal ini sejalan dengan aforisme Ibnu Athaillah al-Sakandari di dalam kitab al-Hikam yang mengatakan bahwa selama di dalam diri manusia ada tempat nafsu yang menjerumuskan ke dalam lembah kemaksiatan, maka jalan menuju Allah harus senantiasa ditempuh. Karena yang menjadi penghalang kedekatan manusia dengan Allah bukanlah jarak, melainkan tersebab tembok-tembok kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia dengan nafsunya.

 لَوْ لَا مَيَادِيْنُ النُّفُوْسِ مَا تَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِيْنَ إِذْ لَا مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَطْوِيَهَا رِحْلَتُكَ 

“Jika bukan tersebab tempat nafsu (dalam diri manusia) niscaya tak akan ada perjalanan orang-orang menuju Allah, sebab tak ada jarak antara dirimu dan diri-Nya yang harus ditempuh oleh perjalananmu” Menanamkan kesadaran bahwa Allah itu dekat sangatlah penting, di samping itu sadar diri bahwa di dalam diri manusia didapati tempat nafsu juga harus disikapi dengan hati-hati. Dua kesadaran inilah yang membuat relasi hamba dengan Tuhannya menjadi aktif, bukan semata karena sadar Allah itu dekat, melainkan ia tahu bahwa dalam dirinya masih terdapat faktor-faktor yang mungkin jadi penghalang, sehingga ia senantiasa bersegera atau bahkan lari menuju Allah. Akhirnya, pernyataan perihal dekatnya Allah bukan berarti kita sampai pada Allah, upaya bersegera bahkan berlari menuju Allah menunjukkan kesungguhan bahwa sadar akan kedekatan Ilahi harus senantiasa berjalan beriringan dengan ikhtiar spiritual yang konsisten dan berkelanjutan melalui iman, amal, serta disiplin spiritual dalam menghindari setiap bentuk perbuatan yang dilarang (maksiat). Fafirruu ilallah, maka bersegera lari (mendekat) menuju Allah. Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kyai Chumaidi, bapak TPQ

Biografi KH. Taufiqul Hakim

Al-Quran dan Sejarah Intelektualitas Umat Islam